Wednesday, July 15, 2009

Dicekik Plastik

Dicekik Plastik


Sabtu pagi. Akhir pekan. Keramaian manusia di pusat perbelanjaan. Sungguh bukan pemandangan baru. Tapi saya baru tahu, mengantre di kasir supermarket di hari Sabtu pagi bisa menjadi pengalaman yang begitu miris dan mengiris.

Pagi itu saya belanja di Carrefour sendirian. Sambil menunggu pembelanja sebelum saya yang belanjaannya sampai dua troli, saya mengamati sesuatu. Lewat pengeras suara, beberapa kali terdengar imbauan untuk mengurangi sampah plastik, bahwa Bumi sedang mengalami pemanasan global, dan sudah tersedianya kantong belanja ramah lingkungan yang bisa dibeli dengan harga terjangkau (ada dua pilihan: dua ribu perak berbahan plastik daur ulang dan sepuluh ribu perak untuk yang berbahan polyethylene).

Lalu di dekat kasir, tertempel sebuah stiker yang bunyinya kira-kira begini: petugas kasir diharuskan untuk menawarkan isi ulang pulsa dan kantong belanja ramah lingkungan pada para pembeli. Saya memperhatikan kiri-kanan, termasuk pada saat giliran saya membayar tiba. Memang betul saya ditawari pulsa. Tapi tidak kantong belanja tadi.

Dan, berbarengan dengan pengumuman yang bergaung di seantero toko mengenai pemanasan global, saya mengamati bagaimana belanjaan demi belanjaan dimasukkan ke kantong-kantong kresek oleh tangan-tangan gesit yang sudah bergerak terampil bagai robot. Tak sampai penuh, bahkan kadang setengah pun tidak, mereka mengambili kantong plastik baru. Yang belanja pun tenang-tenang saja menyaksikan. Kenapa tidak? Berapa pun kantong plastik yang dipakai, itu sepenuhnya terserah pihak supermarket. Gratisan pula.

Sambil mengamati gerakan tangan gesit petugas, dalam hati saya bertanya: haruskah seboros itu? Barangkali memang kebijakan dari toko yang mengharuskan berbagai jenis barang untuk tidak digabung dalam satu kantong. Tapi kenyataannya, kantong-kantong plastik setengah penuh itu hanya berfungsi sebagai alat angkut dari kasir menuju troli, lalu dari troli menuju bagasi mobil, lalu dari mobil menuju rumah. Kalaupun beberapa barang beda kategori tersebut harus digabung, asal tidak terkocok-kocok di mesin pengaduk semen, seriously, what harm can possibly be done with those stuffs?

Saat saya harus maju, memang saya terlihat lebih repot dari yang lain. Saya mengeluarkan tiga kantong yang saya bawa dari rumah, lalu mengisinya sendiri. Bukan apa-apa. Kadang-kadang akibat pelatihan yang mengharuskan para petugas supermarket untuk memilah-milah barang membuat mereka seringkali tampak canggung dan melambat ketika harus menggabungkan santan kotak dengan kapas, atau piring dengan brokoli, atau pasta gigi dengan selai. Sementara bagi saya itu bukan masalah. Tiga kantong yang saya bawa dari rumah tampak gendut dan sesak. Beberapa barang besar seperti beras dan deterjen tiga kiloan saya biarkan di troli tanpa plastik.

Melajulah troli saya yang jadinya tampak aneh di tengah troli-troli lain yang didominasi tumpukan kresek putih. Rata-rata orang keluar dari sana membawa 4-6 kantong kresek. Belum termasuk plastik-plastik yang membungkusi buah dan sayur. Jika semua ini direkam dalam video, lalu satu demi satu gambar dihilangkan dan dibiarkan gambar plastiknya saja, niscaya kita akan melihat buntelan-buntelan putih licin yang mengalir bagai sungai dari supermarket menuju parkiran.

Superindo punya kebijakan yang selangkah lebih mending. Jika belanjaan kita cukup banyak maka petugas di kasir akan menawarkan pemakaian dus. Dan sudah ada dus-dus yang disediakan dalam jangkauan, hingga tak perlu tunggu lama untuk cari-cari ke gudang. Beberapa kali saya mengantre di kasir Superindo, saya menemukan banyak pembeli yang menolak pakai kardus meski belanjaan mereka banyak. Entah apa alasannya. Mungkin menurut mereka kurang praktis. Atau tidak terbiasa. Seperti Carrefour, Superindo juga menjual green bag, kantong belanja yang bisa dipakai berkali-kali. Green bag tersebut pun bisa didapat dengan gratis. Caranya? Mengumpulkan 70 stiker. Satu stiker didapat dengan belanja 10 ribu, dan stiker berikutnya di kelipatan 50 ribu. Jadi belanjalah dulu 10 ribu sebanyak 70 kali, atau belanja 3,5 juta untuk mendapatkan tas itu secara cuma-cuma. Wow.

Kasir di Ranch Market selalu bertanya pada pembeli: "Apakah struknya perlu dicetak?" dan ketika kita menjawab 'tidak' (karena seringnya memang tidak dilihat lagi juga), maka dia tidak akan mencetakkan struk yang berarti penghematan kertas.
Sedang dilaksanakan pula kegiatan adopsi pohon dengan biaya 95 ribu, di mana kita akan mendapatkan satu kantong belanja bahan kain goni yang ukurannya cukup besar dan satu pohon akan ditanam atas nama kita di Gunung Rinjani. 'Saudara'-nya Ranch Market, yakni Farmer's Market, secara rutin mengadakan hari "Belanja Tanpa Kantong Plastik", di mana setiap Selasa minggu ke-2 Farmer's tidak menyediakan kantong plastik sama sekali. Sama seperti Carrefour dan Superindo, jaringan ini juga menjual green bag dari bahan kain seharga 10 ribu-an.

Memang, dibandingkan beberapa tahun yang lalu, inisiatif dari pihak supermarket/hipermarket sudah jauh lebih baik dan kreatif. Namun, apakah tidak bisa kita bergerak lebih cepat, lebih tajam, dan lebih langsung? Dan, mungkinkah perspektif yang digunakan pun sebetulnya terbalik? Jika benar-benar ingin mengurangi sampah plastik, kenapa justru pembeli yang tidak ingin menggunakan kantong kresek malah menjadi pihak yang harus mengeluarkan biaya ekstra dan tidak mendapat insentif apa pun? Sementara yang pakai kantong kresek tetap melenggang kangkung tanpa sanksi apa-apa? Tidakkah ini jadi mengimplikasikan bahwa gerakan go-green itu 'lebih mahal' dan 'repot', sementara yang sebaliknya justru 'gratis' dan 'praktis'? Di mata saya, penjualan kantong-kantong ramah lingkungan tersebut pun, selama masih menggunakan bahan baku baru dan bukan hasil daur ulang, akhirnya cuma jadi komoditas biasa. Seperti halnya jualan sabun atau sayur. Sementara yang paling penting adalah BERHENTI memproduksi barang baru dan menggunakan ulang apa yang ada. Yang paling penting bukanlah mencetak tulisan "Selamatkan Bumi" di selembar kain kanvas atau di kain polyethylene lalu menjudulinya tas ramah lingkungan, melainkan membuat kebijakan yang benar-benar realistis dan berpihak pada lingkungan.

Dari data yang saya baca, di jaringan Superindo sendiri, penggunaan kantong kresek bisa mencapai 300.000 lembar per hari. 700 ton sampah plastik diproduksi hanya oleh Jakarta saja. Dan menurut Kementrian Lingkungan Hidup, komposisi sampah plastik di kota-kota besar seperti Surabaya dan Bandung meningkat sejak tahun 2000 dari 50% ke 70%. Kita benar-benar sudah dicekik plastik.

Pikiran saya terus berandai-andai: jika memang pemerintah tidak berbuat sesuatu untuk menekan produksi dan penggunaan kantong plastik, dan andai saya adalah pengambil keputusan di rantai supermarket tadi, maka saya akan menetapkan harga 2000-5000 rupiah untuk satu kantong kresek, yang barangkali akan lebih efektif untuk 'memaksa' orang membawa kantong sendiri ketimbang menjual kantong ramah lingkungan seharga 10 ribu. Dana dari 'sanksi' kantong kresek tersebut lalu disalurkan untuk kegiatan penghijauan dan aktivitas lingkungan hidup lainnya. Di sebagian negara di Eropa, ternyata pengenaan biaya pada kantong belanja telah berhasil menurunkan sampah kantong plastik hingga 90%.

Saya cukup salut dengan keberanian Makro. Barangkali cuma di Makro berlaku peraturan tegas di mana konsumen harus mengeluarkan uang 2000 rupiah untuk setiap kantong belanja. Setiap pembeli yang pergi ke sana mau tak mau harus siap mental untuk membawa kantong belanja sendiri atau berebut dus-dus kosong yang memang disiapkan di sana. Kebijakan seperti itu dapat dimaklumi karena Makro memang menjual barang-barang berukuran dan berkuantitas besar, jadi alasannya tidak melulu lingkungan. Namun bukannya tidak mungkin jaringan supermarket dan hipermarket lainnya mengikuti jejak Makro dengan mengusung alasan lingkungan, sebagaimana yang digaungkan lewat pengeras suaranya.

Saya keluar dari aliran sungai plastik tadi menuju mobil. Hati masih miris dan teriris. Sesekali bertanya, apakah khayalan saya ketinggian? Apakah realistis jika berharap pihak produsenlah yang berani muncul dengan kebijakan tegas, sementara para konsumennya sendiri tidak mau belajar mengedukasi dan melatih dirinya? Namun, sampai kapan kita bertahan di balik sekat-sekat kaku yang memisahkan pembeli dan penjual, pemerintah dan masyarakat? Sementara belitan plastik yang mencekik tanah dan air Indonesia sudah terlihat jelas di depan mata.


Read More ..

Wednesday, July 08, 2009

Dee's Essential List #3

Inilah daftar terakhir dari seri Essential List. Dalam daftar ketiga ini, saya mengulas produk yang beragam, dari mulai baju sampai bensin. Menuliskan Essential List ini membuat saya tersadar bahwa produk dan tempat layanan jasa yang baik bukanlah sekadar barang atau tempat yang punya elemen fungsional, tapi juga hati, seni, visi, dan passion. Dan itulah yang sekiranya menjadi benang merah dari penghuni daftar #1 sampai #3 ini.

Saya yakin daftar ini akan terus berkembang, so, nantikan saja kompilasi berikutnya. Dan perlu saya ulangi lagi, bahwa saya tidak dibayar maupun berafiliasi secara komersil dengan para produsen/tempat/penyedia jasa/produk yang ada di daftar ini. Ulasan saya murni berdasarkan pengalaman, dan murni dari hati yang tulus.

Semoga berguna!

Dee's Essential List #3

LOVING HUT (Restoran Vegetarian - Jakarta)


Bagi kaum vegetarian yang tinggal atau banyak berkecimpung di Jakarta Selatan, berita dibukanya restoran vegetarian di daerah ini bagaikan musafir bertemu oase di padang pasir. Selama ini restoran vegetarian enak didominasi Jakarta Utara atau Barat. So, simply put, this is officially our distance-friendly food haven.

Tempatnya yang serba putih dan apik, dengan gaya interior ala kafe, sekilas pintas tak membedakannya dengan tempat makan di Jakarta lainnya. But Loving Hut comes as a full package. Sebagai bagian dari franchise Loving Hut internasional yang memang punya visi dan misi yang kuat, tempat ini juga peduli terhadap gerakan lingkungan hidup dan gaya hidup sehat. Jadi, akan ada banyak brosur dan leaflet informasi yang bisa Anda bawa dengan cuma-cuma dari sana. Tayangan tevenya pun konstan menyiarkan acara dari Supreme Master TV yang isinya memang sangat positif dan gencar menyuarakan eco-friendly living.

Saya amati, banyak orang yang datang ke sana untuk rapat kantor atau arisan, di mana tampak banyak juga yang baru pertama kali mencoba menu vegetarian. Muka-muka yang tampak surprised karena ternyata makanan tak berdaging pun rasanya bisa enak. Cita rasa dan pilihan menu di Loving Hut memang cukup beragam, dari mulai menu Asia, Eropa, termasuk masakan Indonesia (nasi padang, nasi pepes, nasi timbel, dsb).

Menu favorit kami: Nasi Pepes Tropikal, yakni nasi bumbu kuning dibungkus dalam daun pisang bersama cabikan jamur, disajikan dengan kerupuk gendar, kering tempe, sambal, dan dendeng vegetarian yang dibuat dari kaki jamur. Sebetulnya banyak menu enak di Loving Hut. Tapi saya dan Reza benar-benar cinta mati sama Nasi Pepes Tropikal sampai-sampai 95% kedatangan kami ke sana hanya untuk memesan menu satu itu, despite the desperate effort from the owner and the servants who had tried to convince us to try other dishes.

Makanan di Loving Hut masuk ke dalam kategori makanan vegan, yang artinya bebas semua produk hewan termasuk susu, telur, kulit, dan madu. Meski Anda bukan seorang vegetarian atau pun vegan, tidak ada salahnya mencoba petualangan kuliner baru dengan mencicip makanan 'bebas kekerasan' di Loving Hut.

Lokasi:
The Plaza Semanggi, Lt. 3A, No. 3A
Kawasan Bisnis Granadha
Jl. Jend Sudirman Kav. 50
Jakarta - 12930
Tel. +62 - 21 - 2553 9369


DHARMA KITCHEN (Restoran Vegetarian - Jakarta)

Jika harus menyebut satu nama restoran vegetarian terbaik dan paling representatif se-Jakarta Raya ini, then our vote goes to Dharma Kitchen (d/h Cita Rasa).

Restoran yang baru saja renovasi dan berganti nama ini adalah salah satu restoran vegetarian 'senior'. Kelezatan makanannya sudah teruji. Konon, yang empunya restoran ini banting stir dari restoran steak menjadi restoran vegetarian karena wabah Mad Cow yang sempat memukul industri peternakan. Yang jelas, keputusannya itu membawa hoki, karena restoran ini malah melejit setelah beralih jadi restoran vegetarian.

Setelah renovasi, Dharma Kitchen kini terbagi menjadi tiga bagian. Lantai bawah ditempati kafe dan bakery. Lantai atas tetap menjadi restoran seperti biasa, di mana penataannya lebih sesuai pakem restoran Chinese konvensional; meja bundar besar, table-top yang bisa berputar, dsb. Kafe yang di bawah bergaya lebih modern dengan interior serba minimalis, pilihan menu yang lebih internasional, lengkap dengan minuman seperti cappuccino dan caffe latte. Bakery-nya dipenuhi aneka roti, kue tar, dan penganan kecil yang menggoda—terutama bagi para vegetarian yang sudah lama tidak bisa makan bacang, resoles, kroket, lemper, dsb. Di bakery ini, semua jajanan pasar tadi hadir dan bebas daging. Bagi yang vegan, bakery di sini juga menyediakan roti dan kue bebas telur yang, menariknya, ternyata lebih lembut dibandingkan roti yang mengandung telur. Dijual juga aneka bahan makanan vegetarian yang cukup lengkap.

Menu favorit kami: Jamur Cah Cincang yang dimakan dengan selada segar. Itu dia menu wajib yang PASTI kami pesan tiap kali datang. Coba juga Sate Manis Saus Kecap, 'Bebek' Peking, Tahu Saus Cabe, dan 'Ikan' Bumbu Bali, dan Pepes 'Ikan' Vegetarian. Well, anyhow, it's all good. Just go crazy.

Bagi saya dan Reza, Dharma Kitchen akan selalu punya tempat istimewa di hati, karena dari sinilah kami memesan katering untuk syukuran pernikahan kami. Informasi: pasca pesta, banyak laporan masuk bahwa orang-orang terkaget-kaget saat tahu bahwa makanan yang kami hidangkan sepenuhnya vegetarian. Termasuk tentang suami istri yang beradu debat karena si suami 100% yakin bahwa sate yang dia makan adalah daging betulan, meski istrinya berkali-kali bilang bahwa semua hidangan pesta kami adalah makanan vegetarian.

Lokasi:
Dharma Kitchen Vegetarian Resto & Café
Jl. Pluit Kencana Raya No. 106-110 Jakarta Utara
Telp. (021) 6621658, (021) 6694220


BLITZ MEGAPLEX (Bioskop)


Mungkin Anda pernah mengalami saat-saat menyebalkan ini, yakni ketika tiket nonton bioskop terbilang mahal, bahkan di salah satu mall di Jakarta harganya bisa sampai 50 ribu perak?

Saya tidak tahu persis apakah Blitz menjadi pemicu tunggal atau tidak, yang jelas ketika bioskop yang satu ini berdiri, tiket bioskop pun kembali menormal. Tradisi 'Senin nomat' pun tinggal kenangan, karena harga tiket dinaikkan hanya di akhir pekan tok. Either way, saya selalu merasa hadirnya kompetitor akan melonggarkan monopoli dan membuat iklim bisnis secara umum lebih sehat, plus menguntungkan bagi konsumen. At least, we have a choice, and a better price.

Di Blitz kita akan bertemu dengan para petugas berbaju modis dan trendi. Ada kafe keren tempat menunggu. Dan tempat duduk untuk menunggu tidaklah jadi barang langka yang sering menimbulkan persaingan sengit (pengalaman pahit bertahun-tahun nonton di Bandung Indah Plaza). Kursi yang nyaman, ruangan bioskop yang bersih, kualitas proyektor dan suara yang baik, adalah hal-hal standar perbioskopan yang saya harap bisa terus bertahan di Blitz. Bukan semata-mata karena usianya yang relatif baru.

Just be watchful for the movie schedule, and make sure you enter the theatre on time. Di sini tidak ada bunyi 'ting-tong' dan suara Maria Oentoe yang memanggil-manggil penonton.

Sejauh ini, Blitz baru buka di Bandung dan Jakarta (coming soon in Serpong! Yippee!).
Informasi lebih lanjut: http://www.blitzmegaplex.com/en/index.php




SHELL (SPBU)


Yep. Kali ini saya akan bicara soal bensin.

Sebelum Shell masuk ke Indonesia, saya sudah terbiasa dengan mengisi bensin di berbagai SBPU-nya Pertamina. Layanannya tentu beragam; dari mulai yang jujur sampai yang suka main-main dengan meteran, dari mulai yang fasilitasnya lumayan sampai yang busuk banget.

Atas anjuran Reza, saya mencoba mengisi bensin di Shell sejak tahun lalu. Sejak itu juga terbukalah cakrawala baru akan pengalaman isi bensin. SPBU Shell sangat rapi, bersih, tertata dengan baik. Stafnya ramah dan profesional. Banyak layanan tambahan cuma-cuma seperti pembersihan kaca jendela, pengisian air, dan pengisian angin ban. Semua SPBU Shell juga memiliki minimart kecil, lumayan untuk cari minum atau snack jika perlu.

Walau harganya di tengah-tengah antara Premium dan Pertamax, saya cukup puas dengan kualitas bensin Shell (saya pakai yang jenis Super). Reza bilang, sejak pakai Shell, mesin mobilnya jadi lebih halus, bertenaga, sekaligus irit.

Jujur, saya tidak terlalu peka soal mesin mobil. It's not really my cup of tea. Tapi untuk pengalaman isi bensin yang memuaskan, I vote for Shell any day. Informasi lebih lanjut: http://www.shell.com/home/content/id-en


VESPERINE (Fashion Line)


Bila Anda seorang perempuan pekerja, kemungkinan besar tidak asing dengan brand satu ini. Dari omongan mulut ke mulut yang saya dengar, banyak sekali perempuan karier yang mendamba koleksi Vesperine sebagai busana berkantornya. Meski demikian, tidak berarti baju-baju Vesperine cuma cocok dipakai untuk ke kantor saja. Saya sendiri cukup sering memakainya untuk berbagai kesempatan, termasuk untuk nyanyi dan pemotretan.

Vesperine punya karakteristik dan garis yang khas, yang cukup banyak mengundang pengekor (dan seringnya tidak berhasil). Kerah bergaya kimono Jepang, obi, dan trench coat, adalah desain yang paling sering muncul dari Vesperine. I've been a fan from day one, and it's so exciting to see their continuos growth and expansion.

Not only the name sounds international, their whole outlook does look international, too. Dari mulai detail outletnya sampai desain website, semuanya diperhitungkan dengan matang. Tapi jangan salah, Vesperine adalah brand lokal asli, berpusat di Bandung—believe it or not. And although the owner and designer is a very dear friend of mine, I believe in my objectivity when it comes to Vesperine's high quality and unique design.

Vesperine bisa didapatkan di departemen store terkemuka, seperti Metro, Sogo, dan Centro. Informasi lebih lanjut: http://vesperine.com/


WARUNG NASI PECEL SOLO


Ini tempat makan wajib kunjung setiap kali saya dan Reza pergi ke Yogyakarta. Berada tepat di sebelah Hotel Grand Hyatt, warung pecel ini memiliki dekorasi tradisional yang cukup indah. Padahal, biasanya pecel warungan ya tempatnya identik dengan 'kebersahajaan nyaris mengkhawatirkan'. Tidak dengan yang satu ini.

Memasuki warung ini seperti memasuki joglo besar, dengan tempat saji yang berada di sentral ruangan dan bangku-bangku kayu panjang yang mengitarinya. Persis seperti nongkrong di warung klasik. Sepanjang mata memandang, banyak aksesori dan furnitur antik seperti lampu dan toples kuno, gebyok, dingklik, dan lesung.

Disajikan di atas daun pisang, sayuran pecelnya segar berlimpah, ada pilihan nasi putih dan nasi merah, dan yang istimewa menurut saya adalah, pilihan bumbunya; ada bumbu kacang dan ada juga bumbu wijen hitam. Bumbu wijen hitam menjadi favorit saya. Selain cukup langka ada warung pecel yang menyediakan bumbu wijen, bumbu ini juga konon lebih sehat, dan rasanya segar. Pilihan minumannya juga cukup 'membingungkan'—karena selalu kepingin lebih dari satu: Es Beras Kencur, Es Temulawak, Es Kunir Asem Sirih, Jahe Pandan Gula Jawa, dan masih banyak lagi.

Jika harus menyimpulkan pengalaman makan di Warung Pecel Solo ini dalam satu kalimat, saya pun harus meminjam komentar Reza: the food here is so full of life. I couldn't agree more.

Lokasi:
Jl Tentara Pelajar No. 52
Palagan Sleman -Yogyakarta
Telp: 0274 - 866588
Jam buka: 08.00 – 16.00, 18.00 – 22.00

Kota SOLO:
Jl. Dr. Soepomo No. 55
Mangkubumen - Solo
Telp: 0271-737379


TOGAMAS (Toko Buku)


Pertama kali saya mengunjungi Togamas adalah ketika saya promo "Filosofi Kopi" di Yogyakarta, kota yang terkenal dengan persaingan toko buku yang ketat saking banyaknya.

Dari kunjungan pertama saya, tampak jelas bahwa Togamas memiliki eksistensi yang kokoh. Desainnya menarik dan serba terbuka, pilihan bukunya cukup komplet, dan ada kafe sastra yang jadi tempat nongkrong sekaligus tempat untuk menampung berbagai kegiatan perbukuan, salah satunya promo "Filosofi Kopi" saat itu.

Bagi yang tidak asing dengan Togamas, tentu yang paling menarik dari toko ini adalah diskonnya yang sangat bersahabat. Bisa 10-20% lebih murah dari jaringan toko buku lain. Tidak heran kalau Togamas menjadi tempat incaran para mahasiswa untuk berburu buku.

Namun, di luar dari kebijakan diskonnya, Togamas adalah salah satu dari sedikit toko buku yang, menurut saya, berbisnis buku dengan "hati". Apalagi setelah bercakap-cakap dengan yang empunya, Pak Johan, dan stafnya Mas Arief, saya semakin merasa toko ini tidak cuma sekadar jual buku. Yang jelas, dari pengalaman saya sebagai penerbit, Togamas adalah klien yang sangat menyenangkan karena pemesanannya selalu kontinu dan pembayarannya tepat waktu :)

Sekarang ini, Togamas sudah dibuka di beberapa kota, antara lain: Bandung, Denpasar, Surabaya, Jember, dan Malang. Informasi lebih lanjut: http://www.togamas.co.id/

* Sumber foto: Diambil dari masing-masing situs dan blog resmi tempat-tempat di atas.
Read More ..

Monday, June 29, 2009

Dee's Essential List #2

Melanjutkan Essential List #1, inilah daftar saya berikutnya, yang kebetulan kali ini semua tempat berada di Bandung. Perlu saya ulangi lagi bahwa saya tidak dibayar maupun berafiliasi secara komersil dengan para produsen/tempat/penyedia jasa/produk yang ada di daftar ini. Ulasan saya murni berdasarkan pengalaman pribadi, dan murni dari hati yang tulus.

Semoga berguna dan selamat ngiler! :)


Dee's Essential List #2

PASAR CIHAPIT (Bandung)


Inilah pasar tempat saya 'dibesarkan'. Pasar Cihapit letaknya kurang lebih 1 km dari rumah keluarga saya di Bandung dulu. Saya biasa berjalan kaki atau naik becak ke sana. Dari pasar inilah ibu saya membeli bahan makanan untuk keluarga kami setiap harinya. Di sini pulalah saya banyak menghabiskan masa kecil saya, dari mulai menemani Mama belanja hingga akhirnya saya belanja sendiri untuk keluarga saya. Meski akhirnya pindah ke daerah Awiligar yang letaknya cukup jauh dari Cihapit, tetap saja pasar ini menjadi tempat favorit saya berbelanja.


Kalau Anda jalan-jalan ke Bandung, sempatkan mampir ke Pasar Cihapit di pagi atau siang hari. Banyak kejutan spesial yang menanti Anda:


1. Warung Nasi Ibu Eha (di dalam pasar)


Warung nasi legendaris ini berada di dalam kompleks pasar. Jangan takut nyasar. Masuk saja dan tinggal tanya-tanya, para pedagang yang ramah akan dengan senang hati menunjukkan arah ke warung Ibu Eha. Ibu tua energik yang usianya sudah mendekati 80 tahun ini (hmm, atau sekarang sudah lebih, ya?) akan tampak terlihat sibuk mengatur stafnya yang hampir semua ibu-ibu separuh baya. Ibu Eha mewarisi bisnis warung ini dari ibunya, yang sudah berjualan sejak tahun 1940-an.

Sejenak kita akan seperti terjebak di lorong waktu. Foto presiden yang terpajang adalah Soekarno, entah poster cetakan tahun berapa, yang jelas sudah terlihat menguning. Sebagian tempat duduk di sana adalah bangku-bangku kayu memanjang yang usianya juga sudah puluhan tahun. Di lokasinya yang lama (warung ini pindah ke bagian lain di pasar setelah Pasar Cihapit sempat direnovasi), bahkan batu bata di temboknya sudah hitam bagai jelaga karena asap masakan selama lebih dari empat dekade (Ibu Eha masuk ke Pasar Cihapit sejak tahun '60-an).

Siang hari adalah peak hour di warung ini karena banyak karyawan perkantoran yang makan siang. Pukul sebelas atau sedikit lewat dari jam makan siang adalah waktu kunjung yang ideal karena lebih sepi, kita bahkan bisa mengobrol-ngobrol dengan Ibu Eha yang ramah. Dan bagi saya, di sinilah daya tarik utama makan di Warung Ibu Eha. Bukan saja makanannya yang enak, tapi juga suasana yang lain daripada yang lain.

Jangan berharap kemewahan, tentunya. Makanan di sini sederhana saja, dengan piring-sendok-garpu yang juga sederhana, secangkir teh pahit, lalap dan sambal gratis, serta kobokan untuk cuci tangan. Tapi rasa silakan diadu. Bagi yang vegetarian, cobalah tempe bacemnya—yang menurut saya adalah The Best Tempe Bacem Ever, yang membuat daging terasa jadi biasa saja. Tahu gorengnya juga nikmat, Ibu Eha menggunakan tahu Lembang yang lembut dan gurih. Juara berikutnya adalah: sambal dadak. Jangan meninggalkan tempat itu sebelum mencoba sambalnya. Rasanya sangat pas dan segar. Apalagi kalau sedang musim buah Gandaria, karena akan terseliplah beberapa butir Gandaria yang membuat rasa sambalnya semakin semriwing. Buat saya, nasi panas plus tahu-tempe dan sedikit kuah rendang telur, sambal dadak dan lalap singkong, sudah membuat perut saya bahagia dunia-akherat (liur saya bahkan nyaris menetes menuliskannya).

Bagi Anda yang non-vegetarian, silakan mencoba Ibu Eha's most famous highlights: rendang, ayam goreng kuning, dan ikan bawal goreng.


Saya pernah bertanya pada Ibu Eha tentang resepnya menjaga kesehatan. Dan sambil membersihkan babat sapi, ia menjawab: "Ibu nggak pernah makan beginian. Ibu makannya cuma nasi aja, sama lalap, sama tahu, sama sambel, atau ikan asin sedikit. Udah, cukup." Well, for someone that's surrounded everyday with delicious meat dishes that made her name famous, I really didn't expect that answer :)

2. Cincau Cihapit (di pintu masuk pasar)

Lengkapi pengalaman Cihapit Anda dengan segelas cincau hijau kondang ini. Dijual di gerobak dorong kecil, di depan mulut pasar, bisa dijual per gelas atau kemasan besar untuk dibawa pulang. Jika Anda menyambi dengan makan siang di Ibu Eha, bisa minta tolong juga untuk diantar ke sana.

Meski dijual di gerobak sebesar gerobak es lilin, cincau ini sudah masuk ke supermarket juga saking santernya. Kalau nasib sedang sial dan tukang cincau ini sudah pulang, jangan kecil hati. Produknya dijual di Supermarket Yogya (Jalan Riau a.k.a Riau Junction). Tersedia dalam kemasan besar (cukup untuk 4 gelas), lengkap dengan santan dan gula.

Berbeda dengan kebanyakan es cincau hijau lain yang memakai sirop merah, Cincau Cihapit hanya memakai santan dan gula cair. Cincaunya super lembut dan rasa daunnya terasa segar dan tidak langu. Again, this is THE BEST GREEN CINCAU ever! Trust me.

One thing that really amazes me, though. Saya sudah beli cincau ini sejak kecil, dan meski belum pernah ngobrol panjang dengan tukangnya, kami sudah mengenali muka satu sama lain dengan akrab. Satu waktu, Mang Cincau ini bilang pada saya: "Kemarin saya lihat Neng di teve." Saya tertawa dan 'oh' saja, mengira bahwa ia mungkin melihat saya menyanyi di salah satu program teve. Lalu dia melanjutkan, "Mang senang nonton acara Neng. Salam ya buat Kang Juhana." Dahi saya pun mengernyit. Saya bertanya balik, "Maksud Mang, acara Tantangan – Indosiar?". Dia tertawa, "Iya, pan Neng yang bawain acaranya?"

Saya langsung meralat, "Bukan, Mang. Saya bukan Tina Zakaria!"

Mang Cincau tertawa makin lebar, "Ah, si Neng mah sok pura-pura kitu. Mang juga bisa ngenalin!"

Berkali-kali saya mencoba meyakinkan bahwa saya bukan Tina Zakaria. Dan tawanya malah makin keras. Akhirnya saya meninggalkan gerobak itu dan membiarkan Mang Cincau hidup damai dengan keyakinannya.

3. Kupat Tahu Cihapit (di emper toko Jalan Cihapit)


Di depan sebuah toko yang letaknya tepat di lengkungan jalan Cihapit, ada sebuah gerobak penjual kupat tahu. Penjual aslinya adalah bapak-bapak tua berkumis dan (seringkali) bertopi. Kadang-kadang, anaknya yang menggantikan. Jika Anda mampir ke Cihapit pada jam sarapan pagi, Kupat Tahu Cihapit adalah menu yang ideal.

Setiap piringnya diracik mendadak. Tahu digoreng baru dan sausnya pun dibuat di tempat. Lontong, tauge, irisan timun, tahu yang masih panas, serta saus kacang yang gurih akan tiba di hadapan Anda. Tak lupa, segenggam kerupuk aci ditaburkan di atasnya.

Karena tidak ada tempat duduk, kebanyakan orang beli untuk dibungkus pulang atau makan di mobil. Kalau kepepet ingin makan di tempat, di sebelah gerobak ada semacam peti kayu yang bisa jadi alas duduk. Whatever the circumstances is, don't let it stop you from trying this fabulous dish!

4. Bakso Tahu Mandiri (di emper toko Jalan Cihapit)

Kita sering melihat para pedagang yang berdagang siomay di kota selain Bandung selalu membubuhkan embel-embel "Siomay Bandung" atau "Bakso Tahu Bandung". Sayangnya, walaupun sudah mengadopsi nama Bandung, seringkali yang mengklaim demikian masih jauh sekali kualitas rasanya dengan bakso tahu jalanan yang bisa ditemui di kota Bandung betulan.

Bakso tahu satu ini bukan bakso tahu restoran. Dijualnya di gerobak. Lebih banyak terlihat pada siang atau sore hari setelah pasar tidak terlalu padat. Di jalan raya Cihapit, tepatnya di emper-emper toko, beberapa gerobak bertuliskan Bakso Tahu Mandiri ini terparkir. Mampirlah, dan coba sepiring. Rasakan bakso tahu Bandung yang sebenarnya. Untuk kelas bakso tahu gerobak, menurut saya Mandiri punya cita rasa yang premium.

Berhubung sekarang vegetarian, saya cuma bisa makan kol, kentang, dan telur (bakso tahunya juga bisa, tapi sedikit dibedah jadi tahunya tok). Bagi Anda yang punya keleluasaan lebih, silakan coba... semuanya!

5. Lotek dan Gado-gado Cihapit (di Jalan Cihapit)

Restoran kecil yang lebih menyerupai warung ini terletak di ujung jalan Cihapit, di dekat masjid. Mungkin karena letaknya agak jauh dari keramaian toko, saya jarang melirik tempat makan yang satu itu.

Saya sendiri tadinya tidak menyadari bahwa lotek ini cukup kondang sampai akhirnya saya cukup sering mendengar orang-orang bercerita bahwa mereka sering ke Cihapit hanya untuk beli lotek atau gado-gadonya.

Pengalaman pertama saya adalah waktu mencicip dari piring adik saya. Mata saya langsung membesar, "Enak banget! Beli di mana?" dan dia menjawab santai, "Di Cihapit."

Sejak saat itu, restoran kecil di ujung jalan Cihapit tersebut punya tempat istimewa di hati saya.

6. Serabi Cihapit (di dekat pintu masuk pasar)

Di mulut pasar, tak jauh dari tukang cincau, ada gerobak bertuliskan Serabi Cihapit. Penjualnya seorang ibu-ibu. Kota Bandung memang cukup terkenal dengan serabinya yang kreatif (strawberry, cokelat, keju, kornet, dll). Yang paling beken adalah warung serabi di Setiabudi (nama gaul: Serabi Enhaii). Tapi nggak usah jauh-jauh ke Setiabudi. Di Cihapit pun ada serabi enak.

Seperti halnya tren serabi masa kini, Serabi Cihapit juga menyediakan serabi modern seperti serabi strawberry, keju, dll. Tapi pilihan favorit saya tetap serabi klasik yakni: serabi oncom. Sebelum varian serabi menjadi sebanyak sekarang, serabi klasik hanya kenal tiga rasa: polos, asin, dan manis. Asin berarti dibumbui oncom sementara yang manis memakai kuah gula merah.

Oncom Bandung memang tidak terkalahkan. Apalagi kalau sudah diramu dengan kacang dan bumbu-bumbu, lalu dimasak di atas serabi berwangi santan yang masih mengepul panas. Yummy.

Perlu hati-hati saja tentang jam berjualan serabi ini. Karena Serabi Cihapit punya waktu jeda di siang hari (saya tidak tahu persis jam berapa) hingga akhirnya sore ia buka lagi.

7. Toko Tidar - Art Supplies

Walaupun tidak persis di Jalan Cihapit, melainkan di Jalan Sabang (bersilangan dengan Cihapit, tapi jaraknya sangat dekat), toko ini bisa dibilang salah satu harta karunnya Cihapit. Di toko ini Anda bisa menemui banyak mahasiswa jurusan Seni Rupa atau Arsitektur.

Toko mungil ini menjual berbagai peralatan seni rupa, desain, prakarya, termasuk bahan-bahan membuat maket untuk jurusan Arsitektur. Koleksi kertas daur ulangnya juga lucu-lucu. Fancy paper-nya lengkap. Dan sang empunya toko sering menjaga langsung (dikenal dengan panggilan 'Tante Tidar'), jadi kita bisa banyak bertanya-tanya pada beliau.

Dulu, ketika masih jadi anak sekolah, kunjungan ke Toko Tidar adalah salah satu hiburan menyenangkan bagi saya. Dan sampai sekarang, toko ini terus bertahan, bahkan makin eksis.

Lokasi:
Jl. Sabang No. 71
Bandung 40114
Ph/Fax: (022) 420 4841

8. Taman Bacaan Hendra


Persis di seberang Toko Tidar, ada sebuah rumah besar dengan tulisan di temboknya: TB Hendra. Berdiri sejak tahun 1967 dengan modal 100 buku, TB Hendra merupakan taman bacaan terlengkap di kota Bandung hingga kini. Jadi, Anda bisa bayangkan betapa dahsyat koleksinya.

Banyak komik serial klasik dan novel-novel '80-an bisa ditemui di sini. Dan tentunya TB Hendra terus menambah koleksi buku-buku dari era sekarang. Konon, sekarang koleksi TB Hendra sudah mencapai 500.000 judul.

Kalau Anda penggemar buku cerita dan senang dengan konsep taman bacaan, TB Hendra-lah tempatnya.

Lokasi:
Jl. Sabang 28 Bandung
Telp. (022) 4238008


READING LIGHTS (2nd Hand Bookstore & Coffee Corner, Bandung)


Toko buku bekas ini terletak di Jalan Siliwangi. Bergabung dengan Galeri Seni Bandung yang terletak di lantai atasnya. Isinya adalah buku-buku impor berbahasa Inggris (ada beberapa bahasa lain juga), dari mulai fiksi, non-fiksi, sampai buku anak-anak. Semuanya second hand.

Kalau Anda beruntung, bisa saja mendapatkan buku-buku keluaran relatif baru yang masih dalam kondisi baik dengan harga yang tentunya miring. Di sudut ruangan ada bagian buku anak dengan semacam pojok baca beralas karpet dan bantal-bantal.

Jangan lupa memesan minuman serba cokelatnya. Menurut saya, inilah yang istimewa dari tempat ini. Reading Lights menggunakan bahan cokelat berkualitas (bubuk cokelat pilihan dan dark chocolate batangan) serta aneka campuran yang kreatif, favorit saya: Yin Yang Chocolate (pakai campuran white chocolate) dan Chocoholic (khusus pencinta cokelat karena ramuan cokelatnya paling pekat). Kopinya, konon juga istimewa, menggunakan mesin kopi yang terawat baik serta biji kopi lokal yang terbaik. Sayangnya, saya bukan peminum kopi, so I cannot say much about it. But for sure, the choco drinks are superb.

Di Reading Lights, Anda bebas membaca buku di tempat. Yang juga saya salut dari tempat ini adalah inisiatifnya untuk membangun komunitas baca dan forum diskusi budaya. Beberapa kali Reading Lights mengadakan diskusi sore hari di lantai atas, bekerja sama dengan berbagai komunitas dan LSM di kota Bandung. Suasananya akrab dan cerdas. Sungguh pilihan tempat nongkrong sore hari yang menyenangkan.

Lokasi:
Jl. Siliwangi 16
Bandung - 40141
Ph. (022) 203-6515


RIAU JUNCTION


Kompleks supermarket dan department store ini dimiliki oleh jaringan Yogya (dikenal dengan sebutan 'Toko Yogya') yang memang sukses di Bandung dan Jawa Barat. Walaupun Toko Yogya ada di beberapa tempat, ini dialah outlet terbaiknya.

Lantai 1 diisi oleh supermarket, lantai 2 dan 3 oleh department store, dan lantai paling atas diisi oleh food court. Saya sangat senang belanja di Yogya karena harganya yang relatif lebih murah dibandingkan supermarket sejenis. Selain itu, Toko Yogya masih punya program membership yang memberikan diskon langsung pada saat berbelanja, dan ada hari-hari tertentu di mana Yogya memberikan diskon 10% untuk produk segarnya. Staf di sana juga ramah dan sigap.

Khusus untuk Riau Junction, menurut saya produknya secara umum lebih lengkap dan bervariasi dibanding cabang lain. Di sini (dan juga cabang Cihampelas) ada counter khusus makanan vegetarian. Produk impor seperti makanan jadi dan beauty products lebih beragam dibandingkan cabang lain yang cuma menyediakan tipikal merk lokal tok.

Food court-nya mendapat nilai plus dari saya. Selain penataannya yang apik dan rapi, banyak jajanan Bandung terkenal yang menjadi tenant di sini, seperti Mie Naripan, Es Pak Oyen, Tahu Talaga, dll. Bagi yang jalan-jalan bersama anak, di sini juga tersedia tempat main anak yang cukup besar. Tak heran food court ini selalu ramai.

Setiap kali pulang ke Bandung, Toko Yogya selalu menjadi persinggahan saya. Kadang-kadang yang saya beli adalah barang kelontong biasa yang di Jakarta pun ada, but there's something about the store that always warms my heart.


TOKO SETIABUDI


Jika di daerah tengah ada Riau Junction, di daerah Bandung atas ada Toko Setiabudi. Tempat ini lebih 'internationally-oriented' ketimbang Yogya. Karena itulah banyak ekspatriat yang terlihat berseliweran di Toko Setiabudi. Walaupun secara umum harganya tidak semurah di Yogya, Toko Setiabudi memiliki variasi barang yang bahkan belum tentu bisa ditandingi oleh supermarket upper class Jakarta.

Bumbu-bumbu 'aneh', produk-produk organik, produk beauty & bath impor, koleksi sayur dan buahnya, membuat Toko Setiabudi tempat yang menarik dikunjungi meski cuma untuk lihat-lihat. Di toko ini saya bisa menemukan maple syrup murni grade A, baking soda Arm & Hammer, dan macam-macam kebutuhan spesifik lainnya (info tambahan: maple syrup asli adalah pemanis sehat yang bahkan lebih baik dari madu, baking soda asli adalah bahan pembersih natural yang bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan—dari mulai membersihkan sayuran/buah dari sisa pestisida sampai menggosok lantai, dan Arm & Hammer adalah salah satu merk terbaik).

Di lantai atasnya ada food court bernama Kiosk Food Market yang dipenuhi oleh jajanan top Bandung. Tempatnya lebih simpel ketimbang food court di Riau Junction. Namun satu kali mampir di Kiosk dapat memangkas banyak perjalanan kuliner Anda. Di sini ada Kupat Tahu Gempol yang terkenal, Ketan Bakar Lembang, Gudeg Banda, Sate Hadori, Bakso Malang Cipaganti, Bubur Ayam Kasmin, dan masih banyak lagi.

Bergabung dengan toko buku Periplus yang lumayan besar, Excelso Cafe, Setiabudi Living (khusus pernak-pernik interior dan alat-alat masak), serta beberapa toko fashion yang koleksinya lumayan, menjadikan Toko Setiabudi ini tempat one-stop shopping yang asyik.

* Sumber pinjaman foto:
Pasar Cihapit, Warung Nasi Ibu Eha, Ibu Eha, Kupat Tahu Cihapit, TB Hendra, Reading Lights, Riau Junction, Toko Setiabudi

Read More ..

Friday, June 26, 2009

Dee's Essential List #1

Sudah cukup lama saya terpikir untuk menuliskan daftar ini, tapi baru terwujud sekarang setelah kompilasinya dirasa cukup 'matang'. Matang dalam arti saya punya cukup pengalaman langsung yang sudah teruji waktu. Ini adalah daftar apresiasi saya terhadap produk, produsen, tempat, dan penyedia jasa, yang menurut saya berhasil mewujudkan sesuatu yang spesial dan 'penuh hati'. Setidaknya dalam kehidupan pribadi saya, daftar berikut ini memegang peranan cukup esensial di level sehari-hari.

Catatan penting: saya tidak dibayar maupun berafiliasi secara komersil dengan para produsen/tempat/penyedia jasa/produk yang ada di daftar ini. Ulasan saya murni berdasarkan pengalaman pribadi, dan murni dari hati yang tulus. Semoga bisa jadi informasi yang berguna bagi yang membaca. Dan semoga para penghuni daftar ini tetap bisa mempertahankan kecemerlangannya.

Enjoy!

Dee's Essential List #1

AMANDA MONTESSORI SCHOOL (TK/Playgroup – Bintaro, Jakarta)


Jangan terkecoh dengan tampilan bangunannya. Sekolah yang bentuknya seperti rumah ini memang berukuran mungil dan sekilas tampak sederhana; hanya terdiri dari dua ruangan kelas dan taman belakang yang berfungsi sebagai tempat bermain. Namun sekolah ini benar-benar dijalankan dengan hati dan kasih sayang.

Ketika kami harus pindah ke Jakarta, Keenan pun terpaksa meninggalkan sekolahnya di Bandung (Bandung Montessori School). Tanpa perlu banyak penyesuaian—karena pemilik, metode, dan fasilitas kelasnya sama persis—Keenan kembali menemukan keluarga baru di Amanda Montessori.

Sekolah yang dikepalai oleh Ibu Dina Andayati ini memang setia dengan metode Montessori asli yang menurut saya cocok dengan karakter Keenan. Dalam satu kelasnya, usia anak bercampur antara 2-5 tahun hingga yang kecil bisa belajar dari yang besar, dan yang besar bisa belajar mendampingi yang kecil. Mereka juga melakukan pendekatan individual pada tiap anak dan tidak pernah memaksakan satu pelajaran. Hal-hal yang dipelajari meliputi banyak kegiatan praktis, bukan hanya pelajaran intelektual tapi juga belajar hal-hal sehari-hari dari mulai bersih-bersih sampai memelihara hewan. Tiap pergantian trimester, orang tua diajak bertemu dan dilaporkan perkembangan anak dengan mendetail.

Mahal? Sama sekali tidak. Dibandingkan dengan banyak TK/Playgroup kelas A-B di Jakarta, tuition fee di Amanda Montessori sangat bersahabat. Dan tidak ada pungutan macam-macam di tengah jalan. Semua kegiatan ekstra seperti berenang dan field trip dikenakan biaya yang masuk akal.

Tantangan berikutnya tentu adalah menemukan SD yang sama-sama heartful, kekeluargaan, dan masuk akal (dalam segi biaya). Tapi setidaknya Keenan masih punya setahun untuk menikmati masa-masa bahagianya di Amanda Montessori.

Lokasi:
Amanda Montessori Pre-school
Jl. Cempaka Raya 44 Bintaro
Jakarta Selatan
(021) 736-3980


LAVIE (Toko Perlengkapan Bayi/Anak – Bandung)


Waktu hamil Keenan 7 bulan, saya mulai cari-cari info untuk persiapan perlengkapan bayi. Banyak yang mengusulkan untuk pergi ke Mangga Dua (waktu itu saya masih tinggal di Bandung), karena katanya selain lengkap juga sangat murah. Akhirnya saya meluangkan waktu untuk PP ke Jakarta, berbelanja di ITC Mangga Dua yang sesak dan (lumayan) pengap.

Baru setelah Keenan lahir, saya mengetahui keberadaan Toko Lavie ini, toko di jalan Imam Bonjol yang asri dan dipenuhi pohon rindang. Ternyata, selain tentunya lebih nyaman karena tak perlu berdesakan, lebih sejuk, dekat dari rumah, toko ini sama lengkapnya dan… LEBIH MURAH dari Mangga Dua.

So, meski sekarang saya tinggal di Jakarta, saya tidak keberatan untuk melakukan perjalanan PP ke Bandung demi berbelanja perlengkapan anak kedua saya di Toko Lavie. Ketimbang harus kembali ke Mangga Dua. Swear to God.

Lokasi:
Lavie Baby Shop - Bandung
Jl. Imam Bonjol no.9
Bandung
(022) 250-4905


SAMBARA (Restoran Sunda – Jakarta Selatan)


Orang Bandung pasti sudah tidak asing dengan restoran satu ini. Tapi betapa berbahagianya saya ketika Sambara akhirnya membuka cabang di Jakarta, tepatnya di Jalan Cipete Raya. Meski banyak restoran di Jakarta yang mengklaim dirinya bercita rasa Sunda asli, tidak banyak yang benar-benar memuaskan lidah orang Sunda. Rata-rata hanya sebatas mengadopsi kursi dan aksesoris serba bambu saja, tapi cita rasa mengecewakan.

Sambara jadi oase bagi saya—'Bandung-er' yang kini terdampar di Jakarta. Selain tempatnya yang representatif, komitmen Sambara untuk menciptakan suasana asli Sunda memang tidak tanggung-tanggung. Tukang masak dan hampir semua pelayan mereka ‘impor’ dari Jawa Barat, makanya logat Sunda dan sapaan khas Sunda menyambut dari kiri-kanan begitu kita masuk ke sana. Menunya juga sangat beragam dengan cita rasa yang memuaskan. Saya pernah bertemu Mulan Jameela yang khusus datang ke Sambara hanya untuk makan dua tusuk Sate Jebred (sate kulit sapi), yang menurut Mulan di Jawa Barat saja susah dicari kalau bukan di kampung-kampung.

Satu hal yang saya beri stabillo pink: Sambara menyediakan lalapan, empat macam sambal, dan sayur asemnya secara GRATIS. Ini bukan semata-mata masalah penghematan, tapi yang saya dengar dari orang-orang Sunda asli adalah: begitulah seharusnya etika warung makan Sunda. Dan inilah yang menurut saya membedakan Sambara dengan banyak restoran Sunda wanna-be di Jakarta. Restoran-restoran itu men-charge lalap dan sambal (apalagi sayur asem!), karena mereka tidak menyadari bahwa kedua elemen itulah the heart of Sundanese food. It’s like charging for kimchi in Korean restaurant. A big no-no.

Stabillo berikutnya adalah para pelayan bahkan staf parkir yang ramah, sigap, bersahabat, tanpa dibuat-buat. Our vote goes to Asep, pelayan favorit saya dan Reza (kami bahkan sempat berpikir bagaimana cara mengadopsi Asep). Sambara juga merupakan all- time-favorite keluarga besar kami, termasuk favoritnya Marcell dan Keenan.

Harga di sini sangat reasonable, apalagi untuk ukuran restoran Jakarta. Karena kami vegetarian, jika makan berdua saja total bill kami pasti di bawah 100 ribu. And believe me, we eat A LOT!

Menu favorit saya dan Reza: sayur asem, sambal oncom, nasi tutug tempe, tempe/tahu bacem, perkedel kentang, perkedel jagung, oseng-oseng jamur, sate telur puyuh, dan terong sambal.

Lokasi:
Sambara
Jl. Cipete Raya No. 14
Jakarta Selatan 12410, Indonesia
Tel: (62-21) 769 7913


MACINTOSH


Akibat memperoleh laptop I-Book sebagai hadiah ulang tahun tiga tahun lalu, saya mulai kenal dengan produk-produk Mac. Dan berhubung saya cenderung ‘nrimo’ ketika sudah berhubungan dengan gadget (hp tergilas mobil pun selama belum mati total masih saya pakai), saya putuskan untuk mengatasi kecanggungan saya pindah sistem dari Windows ke Mac. Lama-lama, saya terbiasa. Lama-lama, saya suka. Lama-lama, saya jatuh cinta. Dan lama-lama, saya tidak ingin ke lain hati. Mac is my mate.

Nggak ribet soal virus, nggak ribet navigasi di sistemnya, dan desain-desain produknya yang oh-so-gorgeous, adalah daya tarik Mac yang utama buat saya. Pada dasarnya memang saya hanya membutuhkan 'mesin tik'. Program yang saya pakai hanya Word dan internet. Jadi saya tidak akan rambling tentang kehebatan Mac dalam hal desain grafis dan bikin musik. I don't do any of those stuffs in my laptop.

Dengan adanya Macbook Air yang ringan dan tipis, kesempurnaan Mac dalam semesta pribadi saya terwujud sudah: mesin tik ringan, bebas virus, bodi cantik. What more can I ask?

Outlet Macintosh favorit:
IBK
Ratu Plaza Lt. 3 No 37
Jl Sudirman, Jakarta
Tlp (021) 727-95279


PAULA'S CHOICE


Berawal dari kebutuhan kulit muka saya yang enggan ditempeli pewangi dan pewarna (tapi juga malas pakai produk dokter karena harus bolak-balik tebus resep), akhirnya dalam satu pencarian di internet saya menemukan situs Paula Begoun yang dikenal dengan julukan Cosmetics Cop.

Perempuan satu ini terkenal vokal dan kritis terhadap industri kecantikan yang menurutnya lebih banyak menyesatkan ketimbang mengedukasi. Paula bolak-balik diundang di acara-acara teve nasional di Amerika, salah satunya Oprah. 'Kitab' wajib karya Paula adalah The Beauty Bible (those of you who happen to be make-up and skin care junkies... this book is a must-have! Panduan komplet dan kritis yang bisa menghemat uang Anda dan membuat kita menjadi konsumen yang lebih pandai). Paula pun akhirnya terjun langsung menjadi produsen produk perawatan kulit dengan lini bernama Paula's Choice yang hanya dijual on-line. Saya langsung blingsatan, ingin mencoba produknya yang tentu menganut semua paham Paula, yakni: bebas pewangi, bebas pewarna, kemasan rapat, ukuran besar (Paula mengkritisi kemasan-kemasan heboh tapi ceroboh yang sering diproduksi oleh industri kecantikan, karena selain membuat isinya gampang teroksidasi, produk tersebut jadi mahal karena konsumen akhirnya membeli kemasan mewah, sementara isinya cuma sedikit).

Pencarian saya membuahkan hasil. Ternyata Paula's Choice memiliki distributor di Jakarta. Dengan semangat saya menghubungi pemiliknya, Valentina Winata. Dengan baik dan cepat pula Valentina merespon. Hingga kini saya adalah pelanggan setia Paula's Choice Indonesia. Semua pemesanan saya lakukan via sms atau e-mail, sementara pembayaran lewat transfer BCA. Staf Paula's Choice selalu melayani dengan baik dan pengiriman mereka cukup cepat.

Soal harga, jika dibandingkan dengan luxury product yang biasanya Anda lihat di lantai dasar mall-mall besar, maka
rata-rata harga produk Paula's Choice dua-tiga kali lipat lebih murah dengan kuantitas dua kali lebih banyak.

My Paula's moment? When I finally met Paula in person in 2007. She was here to launch Paula's Choice Indonesia. For the first time in my life, I knew how it felt to be star-struck.

Dee's favorite:
  • Skin Balancing Cleanser. So far, inilah sabun pembersih terbaik yang pernah saya temukan seumur hidup saya. Lembut, bersih tapi tidak kesat (rasa kesat artinya ada build-up sabun tertinggal di kulit tapi sering disalahartikan sebagai sensasi 'bersih'), dan efektif untuk pengangkatan make-up.
  • Beautiful Body Butter: inilah body butter dalam arti sebenarnya. Pekat seperti mentega dan melembapkan kulit kering dengan instan. Meski tanpa pewangi, aroma kakao aslinya yang lembut sangat lezat bagi indera penciuman.
  • Silky Start Sugar Scrub: ini juga scrub gula yang mendekati home-made scrub karena tidak mengandung unsur macam-macam. Kelembapan yang dihasilkannya sehabis mandi... oh, so yummy!
  • Oil-absorbing Facial Mask: Sekarang ini saya lebih suka membuat sendiri masker wajah dari bahan-bahan alami. Tapi kalau Anda malas repot, masker ini adalah opsi yang tepat. Terbuat dari bahan dasar Milk of Magnesia, tinggal oleskan masker ini ke muka, tunggu sampai mengering, dan basuh... voila! Wajah bersih, sejuk, lembap, dan tak berminyak.
  • All Over Body & Hair Wash: Saya adalah pencinta sabun dan sampo wangi sampai akhirnya kulit saya terkena 'pregnancy itches'. Dan terpaksalah saya meninggalkan semua produk pewangi dari kulit tubuh saya. Sungguh sulit menemukan sabun cair dan sampo yang bebas pewangi. Untung saja Paula's Choice menyediakannya (sesuai dengan prinsip emas Paula: "if you want to smell good, just light some scented candle or put perfume on your clothes, but not on your skin.").
  • Barely There SPF 15: Jika dibutuhkan, foundation ringan (yang sebenarnya lebih tepat diklasifikasikan sebagai 'tinted moisturizer') ini bisa jadi alas bedak harian yang menyenangkan; tidak berlebihan, tidak berat di muka, sekaligus berfungsi sebagai tameng sinar matahari. Khusus bagi Anda yang senang dan terbiasa dengan alas bedak tebal, Barely There bukan pilihan yang memuaskan. Cause it's really just... well, barely there.

Lokasi/Kontak:
Paula's Choice Indonesia
Jl. Raya Wolter Monginsidi No. 12B - Lt. 2
Jakarta Selatan 12160
Ph. (021) 720 8543 / (021) 722 0986
Fax. (021) 722 3982
Read More ..

Monday, May 25, 2009

Nge-blog: Perjalanan Panjang Dengan Hati

Nge-blog:
Perjalanan Panjang Dengan Hati


Awal bulan lalu, saya menerima e-mail permohonan endorsement dari Redaktur Gagas Media, Windy Ariestanty, yang kebetulan juga teman baik saya. Gagas berencana akan menerbitkan sebuah buku yang diambil dari blog seorang blogger senior bernama Pak Wicaksono. Di dunia maya, ia lebih dikenal dengan julukan Ndoro Kakung. Setelah membaca beberapa tulisan beliau, tanpa ragu saya mengiyakan, bahkan mengirimkan endorsement saya dalam waktu kurang dari sehari. Rekor tercepat saya dalam mengirimkan endorsement. Bukan karena alasan kejar tayang atau asal-asalan, tapi memang sungguh tak sulit menuliskan kesan bagi tulisan yang memang berkesan.

Beberapa hari lalu, saya dikirimi buku yang akhirnya terbit dengan judul “Nge-blog Dengan Hati” itu. Buku yang ringan (dalam arti sebenarnya—141 halaman dan ukurannya agak kecil). Namun isinya tidaklah sembarangan. Khususnya bagi para blogger atau minimal yang pernah merasakan nge-blog, banyak ketukan ‘aha!’ yang muncul dari kalimat-kalimat Ndoro Kakung yang lugas, humoris, sekaligus informatif tersebut, yang juga mengundang saya untuk kilas balik sejarah ‘karier’ nge-blog saya sendiri.

Tahun 2006, saya membuat blog tanpa pengetahuan blogging sama sekali, bahkan tanpa ketertarikan untuk menseriusinya. Jujur, pada saat itu pun saya bahkan tak terlalu menyukai blog-blog lokal yang saya temui, yang kebanyakan isinya remeh-temeh, diary-ish, atau dalam istilah saya pribadi: ‘diare kata-kata’. Encer dan nggak penting. Beberapa rekan penulis juga mengatakan, “Alaah... nggak usah nge-blog! Langsung bikin buku saja.” Barangkali ada benarnya juga, karena saya cukup sering menemukan blogger yang memang menjadikan blog-nya semacam batu loncatan menuju target mereka sebenarnya, yakni menerbitkan buku. Namun, karena tak jua menemukan cara lain untuk berbagi tulisan-tulisan—yang sifatnya lebih menyerupai esai, puisi, tulisan spontan, dsb—akhirnya saya tetap nekat membuka account di Blogspot.

Jadilah saya blogger seadanya, bergerak dengan kecepatan siput, dan tak pedulian. Saya menulis posting bisa dua bulan sekali, tidak mengulik fitur ini-itu, tidak blog walking, bahkan jarang berkomentar balik pada yang mampir. Baru setahun terakhir, pelan-pelan saya membuka diri dan mulai meneropong dunia blogger. Barulah saya melek dengan berbagai fenomena seputar nge-blog yang ternyata sangat menarik; dari mulai fenomena seleb-blog, cari uang lewat blog, berkarier lewat blog, sampai aneka tips untuk merawat dan mempopulerkan blog. Dengan kata lain, ternyata blog adalah sebuah ‘industri’ sendiri, yang menurut saya, tak kalah menarik dengan industri buku yang lebih dulu saya kenal.

Sebagai penulis, lama kelamaan relasi saya dengan blog pun bertransformasi. Secara alami, saya merasa terpanggil untuk menulis khusus di Dee-Idea, dan tidak lagi melihatnya sebagai rak pajangan ‘alternatif’. Saya mulai meluangkan waktu secara teratur untuk merawat blog saya, membalasi komentar-komentar yang masuk, atau minimal mencari foto untuk artikel saya dengan lebih serius. Sungguh, bahkan saya merasa bahwa lewat media blog inilah saya bisa berinteraksi paling dekat dengan pembaca. Tanpa terasa, dan tanpa rencana, blog akhirnya memiliki tempat yang kurang lebih sejajar dengan buku-buku saya lainnya. Di hati saya, blog ini mulai bertransformasi menjadi ‘anak jiwa’, yang perlu dirawat dan dibesarkan dengan sama baiknya.

Karier nge-blog Ndoro Kakung amat jauh lebih advans dibandingkan saya, tapi cukup banyak hal yang saya sepakati dengan beliau. Seperti Ndoro Kakung, sejak dulu saya percaya bahwa kekuatan blog sesungguhnya adalah konten. Isi. Kita bisa aktif gila-gilaan di beragam jejaring sosial internet demi memompa jumlah pengunjung, atau mendandani blog kita seindah dan secanggih mungkin, tapi—sebagaimana kunci semua relasi—akhirnya kita selalu kembali pada isi dan sentuhan hati. Persis sama dengan apa yang selalu saya ulang-ulang seperti kaset rusak ketika orang bertanya apa rahasia buku sukses.

Ketika ditanya, kenapa kok nge-blog harus pakai hati? Sementara sekarang orang bisa tinggal pasang plug-in dan isi blog terbarui secara otomatis tanpa repot. Ndoro Kakung lantas menjawab: “Dengan membuat sendiri setiap posting, mengumpulkan setiap remah ide menjadi bangunan utuh, kita bisa belajar banyak tentang proses. Proses memberi kita kesalahan, dan pelajaran. Ia menempa kita menjadi seorang blogger yang lebih baik, lebih baik lagi, dan lebih baik lagi.” Itu juga menjadi pengalaman saya. Walau dulunya sempat meremehkan, tak terkatakan jasa nge-blog bagi pengasahan skill saya menulis. Dalam berbagai forum saya selalu berkata bahwa menulis bagaikan otot yang perlu dilatih sedikit-sedikit tapi konstan. Bagi yang ingin badannya sebesar Ade Rai, jangan mimpi bisa minum ramuan ajaib dan ototnya membuncah dalam semalam. Dia harus sering-sering ke gym dan berlatih dengan tekun. Bagi saya, ibarat langganan nge-gym, blog adalah sasana berlatih menulis yang nyaman dan ideal.

Yang tak kalah menarik adalah cuplikan di sampul belakang buku Ndoro Kakung: “Mengisi blog bukan seperti ikut lomba lari jarak pendek; melejit begitu bendera start dikibaskan untuk berhenti segera dalam tempo singkat. Mengelola blog itu ibarat lari maraton, mungkin lebih jauh lagi. Begitu mulai, kita tak perlu bergegas. Atur kecepatan dan napas, juga irama. Perjalanan begitu panjang. Kita tak perlu buru-buru berhenti.”

Meninjau ulang sejarah blogging saya, mudah rasanya untuk berlindung di kalimat di atas, karena saya pun memulai nge-blog dengan amat, sangat perlahan. Tapi sulit dipungkiri juga kebenaran ucapan Ndoro Kakung. Setidaknya karena saya menemukan fenomena yang sama dalam dunia kepenulisan. Begitu banyak orang yang kesusu untuk buru-buru beken, buru-buru eksis, buru-buru laku, tanpa mempedulikan satu faktor penting: belajar menulis, dan berkarier menulis, adalah proses yang amat panjang. Inilah salah satu karier langka di dunia yang bisa dilakoni seumur hidup.

Dalam kata pengantarnya, Windy selaku penerbit menuliskan: “Saya kerap bertemu banyak blogger yang ingin menerbitkan buku. Atau bertemu penulis lain yang ingin mengupas sejuta teknik lain tentang nge-blog. Ujungnya, semua bermuara kepada kepentingan ekonomis atau keinginan untuk tenar.” Windy lalu menambahkan, bahwa tentu saja semua itu tidak keliru, tapi faktor ‘hati’—meski terkesan melankolis di tengah sifat kapitalis yang kian marak—adalah semangat yang justru akan membuat kita menghasilkan sesuatu yang berbeda. “Di antara ribuan buku yang terbit, atau blog yang dibuat setiap harinya, justru hati yang memiliki passionlah yang memberikan kekhasan pada karya kita.” Lagi-lagi, kepala saya mengangguk setuju. Apa yang ditulis Windy, terutama karena dia datang dari sudut pandang penerbit, menjadi salah satu mutiara yang patut kita renungkan.

Kita sudah melihat contoh-contoh blog yang sukses dengan fenomenal, salah satunya blog Raditya Dika, yang tak hanya berhasil dibukukan, bahkan sekarang ia hadir dalam bentuk sinema. Suatu lompatan yang luar biasa. Dalam satu forum bedah buku di mana saya bertemu Dika dan mengobrol langsung dengannya, dia dengan tegas berkata, awal dia nge-blog pun semata-mata untuk kepuasan sendiri saja (dan itu memang tergambar cukup jelas dari blognya). Saat tren buku jadi blog belum populer, berbekal keyakinan akan otentisitasnya, Dika lalu nekat mendatangi kantor Gagas Media dan meyakinkan sendiri pada redakturnya bahwa blognya unik, menarik, dan layak terbit.

Tidak semua dari kita senekat Dika, atau sepiawai Ndoro Kakung. Tapi satu benang merah yang bisa kita lihat dengan jelas dari profil para blogger kawakan tersebut adalah: they write with passion. They write for a long run. Yang artinya, mereka menulis dengan semangat hati. Dan mereka tak berhenti. Formula sederhana itu dapat diaplikasikan pada kita semua. Tidak harus sering, tidak harus jadi posting yang populer, tidak harus bagus, tapi menulislah dari hati. Dan menulislah terus.
Read More ..

Sunday, May 10, 2009

Ketuhanan Yang Ma[s]a Esa[?]

Ketuhanan Yang Ma[s]a Esa[?]


Keyakinan pada Tuhan yang Esa adalah fondasi mendasar bagi bangsa kita. Saking elementalnya, dicantumkanlah prinsip tersebut sebagai sila pertama dari Pancasila. Buah-buah pengamalan yang ditumbuhkan dari sila tersebut antara lain adalah kerukunan umat beragama, tepa salira, toleransi, serta konsep-konsep cantik lainnya. Dalam percakapan sehari-hari kita dapat ‘membauinya’ pada kalimat-kalimat klasik seperti: “jalannya lain-lain tapi toh tujuannya satu” atau “cuma caranya saja yang beda-beda tapi Tuhannya satu”, dst. Namun, sama seringnya pula kita menemukan aneka kontradiksi yang menemani konsep-konsep cantik dan kalimat-kalimat bijak tadi.

Baru-baru ini saya diberi kesempatan untuk menonton pra-rilis satu film indie berjudul “Cin[T]a”. Sebuah film dengan premis dan tema yang menarik; bercerita tentang Tuhan, cinta, dan perbedaan. Di film itu kita menemui dilema yang banyak dialami orang-orang: hubungan cinta beda agama. Dilema yang akhirnya berujung pada pilihan: pilih pacar atau Tuhan?

Entah berapa banyak sudah hati manusia yang nelangsa akibat dilema klise itu; saat benang kusut itu mulai teraduk: mencintai pacar… tidak mau berpisah… tidak mau mengkhianati Tuhan… tapi kenapa harus ada cinta… bukannya cinta juga diciptakan Tuhan… tapi agama bilang tidak boleh menomorduakan Tuhan… tapi kan, katanya cara saja yang beda-beda tapi Tuhannya satu… dan benang itu terus mengusut. Belum lagi Tuhan jarang berdiri sendiri, Ia membawa institusi agama, orang tua, keluarga besar, adat istiadat, bahkan aturan pemerintah Indonesia yang melarang pernikahan beda agama.

Itu baru persoalan asmara. Ketuhanan Yang Maha Esa pun masih harus menempuh berbagai tantangan ketika bersinggungan dengan isu politik, kekuasaan, uang, dan fanatisme. Seringnya, dalam naungan payung konsep mulia tentang keesaan Tuhan, manusia tetap harus memilih untuk mempertahankan perbedaan. Tak jarang sampai berdarah-darah. Kontradiksi yang sempurna digambarkan oleh sebuah dialog dalam film “Cin[T]a”, ketika salah satu tokoh utamanya berkata: “Tuhan memang satu, tapi tetap saja Tuhanku yang paling benar.”

Jika kita benar-benar jujur, hampir semua dari kita sama seperti tokoh film tadi; oke, di mulut kita setuju Tuhan itu satu, tapi nyatanya selalu ada Tuhan yang paling benar. Jadi, sebetulnya, Tuhan mana yang kita bicarakan? Jangan-jangan, selama ini ada dua Tuhan; yang Esa dan Tidak Esa. Jangan-jangan, selama ini kita keseleo lidah, menggunakan terminologi “Tuhan” padahal yang kita maksud adalah “agama”. Atau, jangan-jangan, Tuhan memang tidak Esa. Keesaan hanyalah ilusi yang kita ciptakan sebagai obat penawar dari perbedaan yang terkadang begitu menyakitkan dan merepotkan jika bergesek. Intinya, dari mana kita tahu secara langsung dan absolut bahwa Tuhan itu benar-benar Esa? Kata orang? Kata pemuka agama? Kata kitab? Kata pemerintah?

Tuhan yang malang, pikir saya. Ia begitu terdistorsi dan terasing, meski begitu banyak orang mengaku telah mengenal-Nya, bahkan secara kolektif menggunakan keberadaan-Nya sebagai dasar bernegara. Tidak heran kata “toleransi” begitu populer dalam konsep keagamaan kita, karena dengan kontradiksi yang kita pegang tentang Tuhan, hanya sampai toleransilah kita mampu berjalan. Dan kembali saya ingat perkataan Romo Mangun, bahwa seharusnya kita berlandaskan “apresiasi” beragama, bukan “toleransi”. Toleransi berarti ‘silakan berbeda selama tidak mengganggu saya’. Artinya, toleransi punya batas. Toleransi punya syarat. Dan karena itu jugalah ia cocok dengan lidah kita yang bercabang, yang sepakat dengan keesaan Tuhan tapi siap membacok teman jika berani macam-macam dengan Tuhan-“ku”.

Saya jadi tergelitik untuk bertanya: tidakkah lebih baik—dalam arti: lebih rileks dan realistis—jika kita menerima kenyataan bahwa Tuhan belum tentu Esa? Mengapa kita harus memaksakan diri dengan keesaan Tuhan jika pengalaman spiritual kita pribadi belum membuktikannya? Untuk apa jadi munafik, jika membedakan Tuhan dan agama saja kita masih tersandung-sandung; membedakan isi dan bungkus saja masih tertukar-tukar? Daripada menjadikannya sebagai dalil tak tergoyahkan, teori yang mati, tidakkah lebih baik—dalam arti: lebih adil dan sahih—jika keesaan Tuhan dijadikan sebuah pengalaman yang hidup? Biarlah mereka, yang memang sudah lahir-batin-luar-dalam mengalami keesaan Tuhan, yang kemudian berkata bahwa Tuhan itu ternyata satu adanya. Bagi mereka yang belum mengalami, biarlah Tuhan tidak perlu esa. Biarkan saja Tuhan berbeda-beda. Biarlah masih ada Tuhan-“ku” dan Tuhan-“mu”. Termasuk, biarkan juga mereka yang mengalami tidak adanya Tuhan. Bahkan Tuhan tidak perlu dipaksakan ada, bukan?

Seorang guru spiritual terkenal, Osho, berkata: ada perbedaan besar antara percaya dan tahu. Percaya senantiasa dibarengi oleh asumsi dan pengharapan, sementara tahu senantiasa dibarengi oleh pengalaman. Kita tak perlu percaya bahwa matahari bersinar, kita TAHU bahwa ada matahari di langit yang menyinari Bumi terus-menerus. Kita mengalaminya secara langsung. Jika kita berani kritis: seberapa banyak pengalaman langsung kita tentang Tuhan hingga kita berani mengatakan bahwa Ia cuma SATU? Bahwa Ia sama dan seragam bagi semua orang, layaknya matahari bagi Bumi? Percayakah kita bahwa Tuhan itu esa atau tahukah kita?

Tahun 1999, untuk pertama kalinya saya memberanikan diri untuk mempertanyakan ulang semua yang saya percayai tentang Tuhan, termasuk sejauh mana saya telah menyalahgunakan konsep iman selama ini. Karena, tanpa mengecilkan arti kata “iman” yang didefinisikan sebagai 'percaya sebelum melihat', mudah sekali kita berlindung di balik keimanan untuk mengklaim berbagai hal yang tak kita alami langsung. Hal-hal yang sebenarnya cuma asumsi berkarat dan berkerak tapi kita anggap sebagai kebenaran mutlak. Dan baru saat itulah, saat saya berani melonggarkan cengkeraman saya atas konsep kebenaran, untuk pertama kalinya pula secara tulus saya melihat perbedaan dan keberagaman sebagai sebuah perayaan.

Beranikah kita meninjau iman kita, asumsi kita, kepercayaan kita, keyakinan kita—dan menerimanya sebagai sebuah bentuk keterbatasan dan ‘kemalasan’ kita untuk mengenal-Nya langsung. Sudah berapa lamakah kita berpangku tangan dan membiarkan orang lain atau sebuah institusi merumuskan kebenaran dan Tuhan bagi kita? Mereka yang juga belum tentu mengalaminya langsung, melainkan mewarisi pengetahuan secara turun-temurun?

Pengetahuan adalah sesuatu yang mati, kata Osho lagi. Hanya pengalamanlah yang hidup. Dan saya teringat pertemuan saya dengan seorang bhikku, bernama Bhante Wongsin, di Lembang tahun 2005. Pada akhir pembicaraan kami, beliau berkata: “Jangan percaya semua omongan saya. Anda harus membuktikannya sendiri.” Saya tersentak waktu itu, dan kalimat beliau terus membekas hingga kini. Jangan percaya. Buktikan sendiri.

Beranikah kita untuk mencantumkan tanda tanya di ujung semua yang kita yakini dan percayai? Dan mencantumkan tanda titik hanya jika kita telah mengalaminya langsung, membuktikannya sendiri; saat perjalanan kita dari mempercayai akhirnya tiba di mengetahui.
Read More ..

Sunday, April 12, 2009

Seratus Bagiku

Seratus Bagiku


Untuk pertama kalinya saya akan bercerita tentang sejarah “Seratus” dalam hidup saya. Bukan karena cerita itu teramat penting dan besar, tapi justru karena keremehannya yang luar biasa. Dan remehnya itulah yang menarik bagi saya.

Dalam sebuah pembicaraan iseng dengan Reza, dia berceletuk tentang satu jajanan legendaris tahun ’80-an bernama “Es Jolly”. Otak saya langsung berputar dan menggali kenangan tentang Es Jolly. Siapa yang (dulu) tidak kenal Es Jolly? Seperti Oreo di masa sekarang yang terkenal dengan kredo “diputar, dijilat, dan dicelup”-nya, maka Es Jolly pada masa itu terkenal dengan gerakan mematahkan batang es menjadi dua, lalu menyeruput dengan hebohnya sampai pipi kempot.

Es Jolly begitu kencang didagangkan dan diiklankan. Saya, yang pada saat itu masih SD, juga jadi korban iklan. Saya hafal mati ritual mematahkan dan menyeruput batang esnya, saya tahu bahwa rasa yang paling difavoritkan khalayak adalah Orange dan Grape, tapi saya pun tersadar akan sesuatu yang aneh… kok, rasa-rasanya saya sendiri belum pernah mencicipi Es Jolly. Reza melongo tak percaya, “Masa belum pernah?” serunya. Saya mengingat-ingat lebih keras. Melintaslah kenangan Dewi kecil yang berpura-pura mematahkan es lalu menyeruput udara hampa dalam kepalan tangannya, air liur yang mengumpul saat membayangkan sensasi rasa Es Jolly yang ramai dibicarakan orang… dan, ternyata memang benar: saya hanya sering berkhayal menikmati Es Jolly, tapi pada kenyataannya saya belum pernah mengecapnya sekalipun.

Saya lalu iseng menelusuri misteri tadi: mengapa? Mengapa saya tak pernah mencicip Es Jolly?

Penelusuran itu lantas mempertemukan saya dengan sekeping logam. Seratus perak. Angka keramat yang menghiasi ribuan hari-hari saya sewaktu kecil.

Setidaknya empat tahun terakhir masa bersekolah saya di SD, ibu saya dengan setia memberikan uang jajan yang sama: seratus perak. Mungkin karena pada masa itu inflasi tidak meroket dengan kecepatan menggila seperti sekarang, saya bisa bertahan empat tahun dengan jumlah uang jajan yang tetap.

Seorang anak SD bertubuh ceking, dengan logam 100 perak di kantong, haruslah pintar-pintar menata energi tubuhnya dalam enam jam bersekolah dengan dua kali slot istirahat. Setiap bel istirahat berbunyi saya punya jatah 50 perak untuk menuntaskan dahaga serta mengenyangkan perut. 25 perak untuk satu jenis makanan. 25 perak untuk satu jenis minuman. Demikian seperti itu setiap hari.

Jika saya ngiler pada satu makanan atau minuman yang harganya di atas 25 perak, maka neraca keseimbangan saya bubar. Terpaksa memilih satu: menahan haus atau menahan lapar. Jika beberapa dagangan favorit tertentu baru muncul pada jam bubar sekolah, saya pun harus rela gigit jari sewaktu istirahat karena 50 perak saya terpaksa ditahan pemanfaatannya sampai jam 12 siang nanti. Tanpa terasa, hidup saya bergravitasi di angka “selawe” (istilah nasional: 25 perak). Apa pun yang selawe berarti di dalam jangkauan, sementara apa pun yang di atas selawe berarti pengorbanan atau cuma jadi khayalan.

Berikut daftar menu standar saya saat bersekolah:
  • 1 bala-bala (istilah nasional: bakwan) dan 1 limun (sirup kuning dalam plastik dengan sedotan berdiameter super kecil yang elastis)
  • 1 cilok (singkatan dari: aci dicolok) ukuran besar dan 1 es lilin yoghurt
  • 1 pisang goreng dan 1 es nangka
  • 1 bungkus kerupuk (atau dua bungkus, karena kadang-kadang masih ada yang harganya selawe dua) dan 1 buah iris
  • 1 kue bandros (istilah nasional: tidak tahu) dan 1 es teh
  • … dan aneka kombinasi makanan berharga selawe lainnya.
Misteri Es Jolly terungkap sudah. Meski saya tidak ingat persis berapa harganya, bisa dipastikan bahwa Es Jolly berada di luar jangkauan”orbit” seratus perak saya. Terjawab jugalah mengapa saya baru mencicip rasa Teh Botol di bangku SMP: karena Teh Botol dulu harganya 75 perak. Benar-benar mengacaukan neraca ekonomi. Saya hanya sanggup melirik teman yang menyeruput Teh Botol berbongkah es dalam plastik sambil menerka-nerka: kayak apa sih rasanya? Terjawab pula mengapa saya baru mencicip Coca Cola—juga—waktu SMP. Karena harganya seratus perak.

Keluarga saya bukan tergolong keluarga miskin. Walaupun cenderung sederhana, kami termasuk keluarga ekonomi menengah yang masih sanggup menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi, punya satu mobil, rumah yang cukup luas, dan makanan bergizi setiap hari. Namun saya tidak pernah tahu alasan pasti kenapa ibu saya selama empat tahun hanya memberikan uang saku 100 perak. Barangkali itulah yang akan tetap bertahan menjadi sebuah misteri. Karena ketika beranjak besar barulah saya sadar perbedaan pengalaman kuliner masa kecil saya dengan hampir semua orang yang saya temui. Rata-rata mereka mencicip jajanan yang saya cicip, tapi saya tidak mencicip apa yang kebanyakan dari mereka cicip.

Selingkar koin seratus menjadi tempat saya berputar selama bertahun-tahun. Sekali lagi, saya tidak tahu pasti manfaat penelusuruan iseng ini. Namun sejenak saya tercengang bagaimana kekuatan jumlah uang saku dan ruang yang dimungkinkannya dapat membentuk semesta pengalaman seseorang.

Bagaimana dengan pengalaman yang dihadirkan uang saku Anda?


EPILOG

Barangkali akibat pengalaman masa kecil tersebut, inilah satu kebiasaan yang (entah kenapa dan entah bagaimana) bertahan hingga hari ini saat usia saya sudah kepala tiga:



PS-1. Ide epilog ini dicetuskan oleh Reza, yang tadinya saya mintai tolong untuk mengambil gambar tangan saya memegang sekeping uang 100 perak, tapi setelah dia melihat “koleksi” saya, dia merasa bahwa kantong tersebut lebih menarik dijadikan objek gambar sekaligus kesimpulan tulisan ini (sambil dia tertawa terbahak-bahak, tentunya). And… yeah… I think he’s right.

PS-2. Isi kantong itu sudah berkurang tiga perempatnya karena koin 500-an sudah dipakai untuk bayar parkir dan tol, sementara sebagian besar koin lainnya sudah saya “recycle” untuk Keenan berlatih menabung di celengan.

Read More ..